Please go to www.velangkanni.com for the latest information.

Friday, February 26, 2016

SEMINAR KERAHIMAN ILAHI

Ringkasan bahan Seminar pada 10 Feb 2016 di Graha Maria Annai Velangkanni

 

YUBILEUM  ISTIMEWA  KERAHIMAN

Sdr. Benitius Brevoort OFMCap


1.  Pendahuluan

Tanggal 13 Maret 2015, Paus Fransiskus menyatakan maksudnya untuk mengumumkan suatu Tahun Yubileum Istimewa Kerahiman. Katanya: “Saudara-saudari tercinta, sudah sering saya pikirkan bagaimanakah Gereja dapat lebih jelas menunjukkan panggilannya untuk menjadi saksi kerahiman. Sebab itu saya memutuskan untuk mengumumkan suatu Yubileum Istimewa yang berpusat pada kerahiman Allah. Menjadi Tahun Suci Kerahiman. Tahun Suci ini mulai pada Hari Raya Maria dikandung tanpa dosa dan ditutup tanggal 20 November 2016, Hari Minggu Tuhan kita Yesus Kristus, Raja semesta alam dan wajah hidup belas kasih Bapa.”
Kemudian, pada tanggal 11 April 2015, Tahun Suci Kerahiman itu diumumkan secara resmi melalui Bulla Misericordiae Vultus, artinya: “Wajah Kerahiman”. Dalam surat resmi itu diterangkan lebih lanjut maksud-tujuan Tahun Suci Kerahiman ini. Wajah Kerahiman Bapa ialah Yesus Kristus. Kerahiman Allah itu menjadi hidup, menampakkan diri dan mencapai puncaknya dalam Yesus dari Nazareth.
Kita harus selalu memandang misteri kerahiman dan belas kasih ini. Merupakan sumber kegembiraan, kesejahteraan dan damai. Kerahiman, belas kasih, kata ini mewahyukan misteri Tritunggal Maha Kudus. Kerahiman: tindakan nyata dan paling tinggi pendekatan Allah kepada kita. Kerahiman: jalan yang menyatukan Allah dan manusia, karena membuka hati bagi harapan kita akan dicintai selama-lamanya melewati batas dosa kita. Yubileum Istimewa Kerahiman itu waktu untuk memperkuat dan memantapkan kesaksian orang beriman.

2.  Arti Kerahiman

Allah pada hakikatnya menunjukkan kerahiman, bahkan menyatakan diri maha kuasa melalui kerahiman-Nya. Patut kita sadari bahwa kerahiman Allah itu bukan tanda kelemahan, tetapi tanda kekuasaan, seperti diungkapkan dalam salah satu doa pembukaan perayaan Ekaristi: “Allah, Engkau mewahyukan kemahakuasaan-Mu terutama melalui kerahiman dan pengampunan”.

a.  Dalam Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama sering dikatakan bahwa Allah itu “sabar dan penuh belas kasih”. Kerahiman, belas kasih Allah sepanjang sejarah keselamatan ditunjukkan secara konkret di mana kebaikan Allah mengatasi siksaan dan pemusnahan. Secara khusus dalam mazmur-mazmur diungkapkan kebesaran kasih sayang Allah: “Dialah yang mengampuni segala kesalahanmu dan menyembuhkan segala penyakitmu. Dialah yang meluputkan hidupmu dari kematian dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat.” (Mzm 102,3-4). Kasih sayang Allah, karahiman-Nya datang dari dalam diri-Nya, seperti dari rahim seorang ibu, yang memberi kehidupan, melindungi, melahirkan, penuh keakraban, penerimaan, panjang sabar dan rela mengampuni.

b.  Dalam perbuatan dan perkataan Yesus

Cinta kasih Allah Tritunggal dinyatakan melalui Yesus dan wajah-Nya penuh belas kasih. Tugas yang diterima oleh Yesus dari Bapa ialah mewahyukan misteri kasih setia Allah sepenuhnya, sebab “Allah adalah kasih” (1Yoh 4,8.16). Kasih itu nampak dan dapat disentuh dalam segenap kehidupan Yesus. Hubungannya dengan orang menunjukkan sesuatu yang istimewa dan tak terulang. Tanda-tanda yang dibuat-Nya, selalu ditandai oleh belas kasih, oleh kerahiman. Dalam diri Yesus tidak ada yang tak tersentuh oleh kerahiman.
Dalam perumpamaan tentang kerahiman, Yesus mewahyukan Allah sebagai seorang Bapa yang tidak berhenti sebelum mengampuni dosa dan mengatasi perlawanan, karena belas kasih dan kerahiman. Kita mengenal khususnya ketiga perumpamaan ini: domba dan dirham yang hilang serta bapa dengan kedua anaknya (lih Luk 15,1-32).
Menurut Yesus, belas kasih dan kerahiman itu bukan hanya sifat Allah Bapa, tetapi harus juga menjadi sifat kita. Kita dipanggil menghayati belas kasihan, karena telah menerima belas kasihan. Sebagaimana Allah berbelas kasih terhadap kita, kita harus berbelas kasih satu sama lain.

c   Dalam hidup Gereja

Sokoguru hidup Gereja ialah kerahiman, belas kasihan. Segenap usaha pastoral penggembalaan harus ditandai oleh keakraban dan kehalusan dalam mendekati orang lain, khususnya umat beriman. Gereja hanya dipercayai jika mengikuti jalan kerahiman dan belas kasih yang dekat dengan orang. Sebab itu di mana pun juga, di paroki, di gereja, di lingkungan, di mana orang kristen hidup, siapa saja harus diberi kesempatan menemukan belas kasihan, tempat sejuk di mana ia merasa diri sungguh dikasihi.
Kita diundang menghayati tahun kerahiman ini menurut perkataan Yesus: “Hendaklah berbelas kasih, sama seperti Bapamu berbelas kasih” (Luk 6,36). Seruan Yesus ini ditujukan kepada mereka yang mendengarkan sabda-Nya (lih. Luk 6,27). Maka kita perlu mendengarkan Sabda Allah, supaya sanggup berbelas kasih.

3.  Ziarah melewati pintu kerahiman

Ziarah merupakan tanda khusus setiap tahun suci, sebagai lambang perjalanan yang harus ditempuh oleh masing-masing orang dalam hidupnya. Untuk mencapai pintu suci, di Roma atau di tempat lain, setiap orang harus menempuh perjalanan ziarah, sesuai dengan kekuatannya masing-masing. Ziarah menuju pintu suci kerahiman berupa tanda dan lambang bahwa kerahiman dan belas kasih berupa tujuan untuk dicapai dan meminta usaha dan pengorbanan. Dengan melewati pintu suci, kita membiarkan diri diterima dalam kerahiman dan belas kasih Allah, dan mengikat diri agar berbelas kasih dengan orang lain, sama seperti Bapa berbelas kasih kepada kita.
Berbelas kasih seperti Bapa, itulah semboyan tahun suci ini. Belas kasih itu membuktikan betapa  Allah mencintai kita. Ia memberi segenap diri-Nya, selalu, senantiasa, tanpa pamrih, tanpa meminta balasan sedikit pun. Ia datang kapan saja kita meminta bantuan-Nya.
Di Tahun Suci ini, kita dapat berziarah mendekatkan diri kepada orang yang miskin, menderita, terlupakan dan tidak bersuara. Kita dipanggil untuk berziarah merawat dan mempedulikan mereka serta membiarkan hati kita tergerak oleh belas kasih.

4.  Amal belas kasih

Paus Fransiskus sangat menginginkan bahwa kita selama Tahun Suci ini mendalami amal belas kasih jasmani dan rohani. Amal belas kasih jasmani ialah: memberi makan kepada orang yang lapar, memberi minum kepada yang haus, memberi pakaian kepada yang telanjang, menerima orang asing, mendampingi orang sakit, mengunjungi yang dipenjarakan, mengubur yang mati. Jangan pula dilupakan amal belas kasih rohani: menasihati yang ragu-ragu, mengajari yang tidak tahu, memperingatkan orang berdosa, menghibur yang berduka, memaafkan pelanggaran, sabar memikul orang yang menyusahkan, berdoa bagi orang yang hidup dan yang mati.
Kita tidak mungkin luput dari sabda Tuhan. Berdasarkan hal ini kita akan diadili: apakah kita memberi makan kepada yang lapar, minum kepada yang haus, menerima orang asing dan memberi pakaian kepada yang telanjang, apakah kita memberi waktu mengunjungi orang sakit dan nara pidana (lih Mat 25,31-45). Demikian pula akan ditanya apakah kita membantu orang yang bimbang ke luar dari keragu-raguan. Apakah kita sanggup mengatasi situasi jutaan orang yang kurang tahu, kurang pendidikan, khususnya anak-anak yang tidak mendapat bantuan cukup untuk ke luar dari kemiskinan. Apakah kita dekat pada orang yang sendirian dan dalam kesusahan, apakah kita mengampuni orang yang menyakiti hati kita dan menolak kebencian yang membawa kepada kekerasan. Apakah kita sabar terhadap orang lain, seperti Allah yang begitu sabar dengan kita. Apakah kita mendoakan saudara dan saudari kita.

5.  Usul-usul bagi masa Prapaska

Paus Fransiskus mengundang kita untuk menghayati masa Prapaska tahun suci ini secara lebih mendalam dengan merayakan dan merasakan belas kasih Allah. Betapa banyak halaman Kitab Suci dapat direnungkan selama masa Prapaska ini untuk menemukan wajah Bapa berbelas kasih. Kita dapat merenungkan dan mengulang-ulangi perkataan nabi Mikea 7,18-19 dan Yesaya 58,6-11.
Sangat dianjurkan penerimaan sakramen Pendamaian, di mana kita mengakui dosa dan menerima pengampunan serta mengalami belas kasih dan kerahiman Tuhan.
Khusus bagi masa Prapaska Tahun Suci Kerahiman, di Graha Maria Annai Velangkanni, ditawarkan ibadat berikut:
Setiap hari Jumat orang beriman diundang mengaku dosa dari jam 16:00 sampai jam 17:45; diikuti perayaan Ekaristi jam 18:00.

Setiap hari Sabtu sore, jam 16:00 diadakan Jalan Salib dan diberi kesempatan menerima Sakramen Belas Kasih, yakni pengakuan dosa. Sesudah itu diadakan ziarah melewati pintu belas kasih, diikuti oleh perayaan Ekaristi jam 18:00.

No comments: